neuroscience cermin emosional

mengapa video sedih orang asing bisa bikin kita menangis

neuroscience cermin emosional
I

Jam dua pagi. Mata mungkin sudah terasa berat, tapi entah kenapa jempol kita masih saja scrolling layar ponsel. Tiba-tiba, lewat sebuah video pendek. Seseorang di belahan bumi lain sedang menangis tersedu-sedu. Mungkin ia baru saja kehilangan hewan peliharaannya. Atau mungkin ia baru saja gagal mendapat pekerjaan impiannya. Kita sama sekali tidak kenal siapa orang ini. Kita bahkan tidak tahu di negara mana ia tinggal. Tapi anehnya, tiba-tiba dada kita terasa ikut sesak. Mata kita perlahan mulai berkaca-kaca. Pernahkah kita mengalami momen absurd seperti ini? Rasanya aneh sekali. Mengapa kita bisa menangisi kesedihan orang asing yang jaraknya ribuan kilometer dari kamar tidur kita?

II

Secara logika murni, kejadian ini sebenarnya tidak masuk akal. Buat apa kita membuang energi emosional untuk seseorang yang berada jauh di luar lingkaran kehidupan kita? Selama berabad-abad, para ahli filsafat meyakini bahwa simpati dan empati murni berasal dari moralitas. Sesuatu yang ditanamkan oleh budaya, pendidikan, atau norma sosial. Namun, mari kita tarik mundur jauh ke masa lalu. Tepatnya saat nenek moyang kita masih hidup berkelompok di dalam gua dan berburu di padang sabana. Pada masa itu, bersikap cuek pada perasaan anggota kelompok adalah jalan pintas menuju kepunahan. Jika ada satu orang melihat predator dan wajahnya pucat ketakutan, anggota kelompok yang lain harus langsung merasakan ketakutan yang sama tanpa perlu berdiskusi dulu. Kita berevolusi menjadi makhluk yang sangat sensitif terhadap sinyal emosi satu sama lain demi bertahan hidup. Tapi, bagaimana sebenarnya cara otak kita memproses sinyal emosi ini dengan begitu cepat?

III

Untuk menjawab misteri tersebut, kita harus jalan-jalan sebentar ke sebuah laboratorium di Parma, Italia, pada awal tahun 1990-an. Saat itu, sekelompok ilmuwan saraf sedang meneliti otak monyet macaque. Mereka menempelkan sensor di kepala monyet tersebut untuk memantau sel otak mana yang aktif saat si monyet mengambil kacang. Awalnya, semua berjalan biasa saja. Sampai suatu hari, seorang peneliti masuk ke ruangan dan mengambil kacang itu sendiri. Sang monyet hanya duduk diam menatap sang peneliti. Namun, mesin pemindai otak tiba-tiba menyala liar. Sel otak monyet itu bereaksi persis seolah-olah ia sendiri yang mengambil kacang tersebut. Padahal fisiknya diam seribu bahasa. Bagaimana bisa otak bereaksi terhadap sesuatu yang tidak dilakukan oleh tubuh kita? Dan pertanyaannya, apa hubungan antara monyet pemakan kacang ini dengan air mata kita saat menonton video sedih di internet?

IV

Inilah momen "aha" yang mengubah sejarah neuroscience. Kejadian di laboratorium itu memicu penemuan apa yang sekarang kita kenal sebagai neuron cermin atau mirror neurons. Singkatnya, otak kita ternyata dilengkapi dengan semacam sistem Wi-Fi internal. Saat kita melihat orang lain melakukan suatu tindakan atau mengekspresikan emosi tertentu, neuron cermin di otak kita langsung menyala. Otak kita melakukan simulasi bawah sadar. Ia melakukan copy-paste pengalaman orang tersebut ke dalam sistem saraf kita sendiri. Jadi, saat kita melihat wajah orang asing menangis di layar ponsel, otak kita tidak hanya sekadar melihatnya sebagai "kesedihan orang lain". Otak kita menyimulasikan kesedihan itu seolah-olah kesedihan itu menimpa kita. Batas antara "aku" dan "dia" lebur seketika di tingkat seluler. Layar kaca ponsel nyatanya tidak bisa memblokir pantulan cermin biologis ini. Kita menangis karena secara saraf, kita sedang ikut mengunduh rasa sakit hati orang asing tersebut.

V

Jadi, teman-teman, mari kita berhenti merasa konyol atau cengeng saat tisu habis karena menonton rentetan video sedih di media sosial. Menangis untuk orang yang tidak kita kenal bukanlah sebuah kelemahan. Sebaliknya, itu adalah bukti nyata bahwa otak kita berfungsi dengan sangat brilian. Keberadaan neuron cermin adalah pengingat ilmiah bahwa manusia, pada dasarnya, dirancang secara biologis untuk saling terhubung. Di tengah dunia yang sering kali terasa dingin, terpolarisasi, dan penuh sekat, anatomi tubuh kita justru berkata lain. Kita secara harfiah diciptakan untuk ikut merasakan penderitaan satu sama lain. Jadi, malam ini, jika layar ponsel kembali membuat kita meneteskan air mata untuk seseorang di benua yang berbeda, biarkan saja mengalir. Itu hanyalah cara otak kita yang luar biasa merayakan kemanusiaannya.